the Symphony of Living
call us now

+62 2950 6120 / 21

banner-image

News

Home > News Detail

Tips & Trik Membaca Brosur Developer Agar Tak Terkecoh

2016-03-10

image

Pada umumnya, bagi para calon pembeli yang hendak membeli hunian baru akan mencari informasi selengkap-lengkapnya. Mulai dari perbandingan lokasi, harga, sampai dengan fasilitas yang tersedia di sekitarnya. Salah satu cara paling lazim dilakukan ketika hendak berburu proyek residensial baru seperti apartemen atau perumahan adalah melalui brosur.

Media cetak atau online yang berupa soft copy ini memang paling praktis menjelaskan sebuah produk. Brosur bisa dalam bentuk cetak kertas atau file digital untuk disebarkan di internet. Brosur yang bagus tentu akan lebih menarik pembaca untuk melakukan pembelian.

Namun sayangnya, media promosi yang satu ini sering menawarkan bahasa marketing yang kerap kali mengecoh. Nah, agar Anda memahami cara membaca brosur yang benar, berikut ini beberapa hal yang bisa Anda perhatikan.

 

Promo Uang Muka ( Down Payment )

Ada banyak strategi pemasaran yang ditawarkan oleh developer untuk menarik konsumen dalam membeli rumah atau apartemen baru. Salah satunya ialah dengan menawarkan keringanan dalam membayar uang muka. Seperti yang telah diketahui, sebelum mengajukan KPR, pembeli wajib menyerahkan uang muka sekitar 20 sampai dengan 30 persen.

Untuk meringankan bobot pembayaran tersebut, pengembang sering menawarkan promo uang muka mulai dari 10 persen sampai dengan promo “tanpa DP”. Dalam memahami skema keringanan uang muka ini, Anda harus bertanya langsung dengan bagian staf marketing. Terlebih untuk promo tanpa DP. Bentuk promosi seperti ini terbilang jarang ditemukan dan memerlukan beberapa syarat tertentu.

 


Memahami NUP

Mungkin beberapa dari Anda masih asing dengan kata NUP (Nomor Urut Pembelian) yang sering dicantumkan pada headline brosur. NUP adalah urutan pembelian yang didapat dari pembeli potensial dengan membayar sejumlah uang. Biasanya, seminggu atau tiga hari menjelang peluncuran, pembeli potensial sudah mendapatkan NUP tersebut.

Berbeda dengan booking fee, NUP biasanya bersifat refundable atau bisa dikembalikan jika batal membeli. Jumlahnya juga ringan mulai dari Rp1 juta sesuai dengan kebijakan pengembang. Nah, nominal yang ringan ini sering menjadi iming-iming yang ditampilkan dengan ukuran font besar di bagian brosur.

 

Kritis Soal Lokasi

Semua orang tentu mencari lokasi strategis ketika hendak membeli properti. Untuk itu, pengembang sering mencantumkan jarak tempuh yang kurang akurat demi menarik perhatian konsumen. Sebagai contoh, jika terdapat tulisan “Hanya 5 menit dari pintu tol”, maka Anda harus melakukan double check untuk memastikan kebenarannya.

Pelajari apakah daerah tersebut kerap mengalami kepadatan lalu lintas di jam-jam sibuk, atau selalu lengang dan lancar? Jika tidak memungkinkan untuk datang ke lokasi atau bertanya kepada warga lokal di sekitarnya, Anda juga bisa mengecek jarak dan waktu tempuh melalui Google Maps.

 


Jangan Mudah Percaya

Sebagai salah satu alat pemasaran, brosur tidak menjelaskan banyak hal yang terperinci. Beberapa diantaranya ada yang mencantumkan promo atau gratis namun luput dari penjelasan syarat dan ketentuan.

Oleh karena itu, sebelum kecewa, ada baiknya Anda aktif bertanya kepada staf bagian pemasaran secara langsung. Jika tertera jaminan ROI (Return of Investment) atau kembali modal, Anda juga perlu meminta perhitungan yang rinci.

 

 

 

sumber : rumah.com
gambar : iamdesigning.com

brosur properti, asiek widodo, widodo asiek, edward a widodo, properti indonesia, tips & trik, info properti, k2 park superblok, superblok tangerang, properti indonesia,
  • brosur properti
  • asiek widodo
  • widodo asiek
  • edward a widodo
  • properti indonesia
  • tips & trik
  • info properti
  • k2 park superblok
  • superblok tangerang
  • properti indonesia